Cemin - Gara-gara Minyak Telon
2013
Tak pernah ku pikirkan akhirnya akan menjadi seindah
ini. Kini aku hanya dapat tersenyum bahagia ketika melihat tatapan matanya yang
dalam dan penuh cinta. Dia yang duduk persis di sampingku menjadi pendampingku
hari ini dan selamanya. Aku ingin ini adalah pernikahan pertama dan terakhir
dalam hidupku. Dia adalah istri dan ibu dari calon anak-anakku yang tepat.
***
2011
Aku sedang libur kerja hari ini. Hanya
bermalas-malasan di kamar dan bersikap seperti seorang raja. Minta dibawakan
makan dan minum, menonton tv, dan tentu saja tidur. Kebosanan mulai melanda dan
aku pikir lebih baik jika berjalan-jalan sebentar. Aku datang ke sebuah mol
untuk sekedar minum kopi.
Disaat aku sedang santai duduk di smoking area, tiba-tiba tercium bau minyak telon. “Ah, aku tidak
suka baunya!” kataku dalam hati. Lalu aku mencari dari mana sumber baunya dan
aku menemukan gadis berjilbab biru muda sedang asyik memakai minyak itu di
tangannya. Di hadapannya ada secangkir kopi dan sebuah laptop berlogo apel yang
sudah digigit.
Aku menghampirinya dan berkata “tolong jangan pakai
minyak itu disembarang tempat dong mbak (sambil menunjuk botol minyak telon)”.
“apa? Kenapa? Maaf yaa pak. Saya tidak tau anda tidak suka baunya” ucapnya
lembur dengan wajah memelas. Tak tega melihat wajahnya yang indah, aku berkata
tak apa dan malah meminta maaf juga padanya.
Keesokan harinya aku kembali ke sana dan gadis itu
ternyata juga ada di sana. Namun, kali ini ia memakai jilbab bermotif bunga
yang membuat wajah putihnya semakin merona. Sejak itu, hampir setiap hari aku
mengunjungi kafe itu hanya untuk melihat wajahnya. Wajah si gadis minyak telon
itu. Walaupun aku harus menutup hidung dengan tissu tiap kali duduk di sana.
Lama-kelamaan aku mulai penasaran dengannya. Aku putuskan
untuk menyapa dan mengajaknya berkenalan. Namanya adalah Diva. Nama yang indah
untuk seorang gadis putih, mungil, dan berjilbab itu. Senang dalam hatiku saat
dia dengan ramahnya menyambut perkenalanku. Hanya saja aku bingung kenapa dia
memanggilku dengan sebutan “Pak”. Mungkin karena perawakanku yang memiliki
berewok dan berkaca mata.
Beberapa bulan berlalu aku mengenalnya semakin dalam.
Dia adalah gadis yang baik. Dia 3 tahun lebih muda dariku. Kini dia berusia 20
tahun dan sedang mengejar gelar sarjana. Dia sedang menyusun skripsinya. Itulah
alasan hampir setiap hari aku melihatnya duduk di pojok kafe dengan laptopnya
yang setia.
***
2012
Aku semakin menyayanginya. Setahun mengenalnya
membuatku yakin dia adalah wanita yang tepat. Dia kini sudah menjadi sarjana.
Aku juga mengenalnya semakin dalam. Aku sudah mengenal kedua orang tuanya,
begitu pula sebaliknya.
Sampai pada hari ini aku putuskan untuk mengikatnya
dan menjadikannya ibu dari anak-anakku kelak. Aku mengajaknya ke kafe tempat
kami pertama kali bertemu. “Div, ada yang mau aku bicarain” ucapku lembut. “ya udah,
bicarain aja Raka. Aku siap dengerin” jawabnya. “aku gak bisa jadiin kamu pacar
lagi Div!”. Mendengar ucapanku Diva sontak berdiri dan memandangku lemas.
***
2013
Kini, kisah cinta minyak telon itu sudah berakhir
bahagia. Sebagai tanda cinta, aku meminangnya dan kami resmi menjadi sepasang
hati yang terikat janji dihadapan Tuhan. Diva, adalah sosok wanita sederhana
yang dapat membuatku jatuh cinta. Semoga cinta kami akan selalu hangat seperti minyak
telon yang sangat ia suka.
TAMAT
Jakarta,
29.5.2013
Ulfa Rahmatania
Ulfa Rahmatania
