Senin, 23 September 2013



2013

Tak pernah ku pikirkan akhirnya akan menjadi seindah ini. Kini aku hanya dapat tersenyum bahagia ketika melihat tatapan matanya yang dalam dan penuh cinta. Dia yang duduk persis di sampingku menjadi pendampingku hari ini dan selamanya. Aku ingin ini adalah pernikahan pertama dan terakhir dalam hidupku. Dia adalah istri dan ibu dari calon anak-anakku yang tepat.

***

2011

Aku sedang libur kerja hari ini. Hanya bermalas-malasan di kamar dan bersikap seperti seorang raja. Minta dibawakan makan dan minum, menonton tv, dan tentu saja tidur. Kebosanan mulai melanda dan aku pikir lebih baik jika berjalan-jalan sebentar. Aku datang ke sebuah mol untuk sekedar minum kopi.

Disaat aku sedang santai duduk di smoking area, tiba-tiba tercium bau minyak telon. “Ah, aku tidak suka baunya!” kataku dalam hati. Lalu aku mencari dari mana sumber baunya dan aku menemukan gadis berjilbab biru muda sedang asyik memakai minyak itu di tangannya. Di hadapannya ada secangkir kopi dan sebuah laptop berlogo apel yang sudah digigit.

Aku menghampirinya dan berkata “tolong jangan pakai minyak itu disembarang tempat dong mbak (sambil menunjuk botol minyak telon)”. “apa? Kenapa? Maaf yaa pak. Saya tidak tau anda tidak suka baunya” ucapnya lembur dengan wajah memelas. Tak tega melihat wajahnya yang indah, aku berkata tak apa dan malah meminta maaf juga padanya.

Keesokan harinya aku kembali ke sana dan gadis itu ternyata juga ada di sana. Namun, kali ini ia memakai jilbab bermotif bunga yang membuat wajah putihnya semakin merona. Sejak itu, hampir setiap hari aku mengunjungi kafe itu hanya untuk melihat wajahnya. Wajah si gadis minyak telon itu. Walaupun aku harus menutup hidung dengan tissu tiap kali duduk di sana.

Lama-kelamaan aku mulai penasaran dengannya. Aku putuskan untuk menyapa dan mengajaknya berkenalan. Namanya adalah Diva. Nama yang indah untuk seorang gadis putih, mungil, dan berjilbab itu. Senang dalam hatiku saat dia dengan ramahnya menyambut perkenalanku. Hanya saja aku bingung kenapa dia memanggilku dengan sebutan “Pak”. Mungkin karena perawakanku yang memiliki berewok dan berkaca mata.

Beberapa bulan berlalu aku mengenalnya semakin dalam. Dia adalah gadis yang baik. Dia 3 tahun lebih muda dariku. Kini dia berusia 20 tahun dan sedang mengejar gelar sarjana. Dia sedang menyusun skripsinya. Itulah alasan hampir setiap hari aku melihatnya duduk di pojok kafe dengan laptopnya yang setia.

***

2012

Aku semakin menyayanginya. Setahun mengenalnya membuatku yakin dia adalah wanita yang tepat. Dia kini sudah menjadi sarjana. Aku juga mengenalnya semakin dalam. Aku sudah mengenal kedua orang tuanya, begitu pula sebaliknya.

Sampai pada hari ini aku putuskan untuk mengikatnya dan menjadikannya ibu dari anak-anakku kelak. Aku mengajaknya ke kafe tempat kami pertama kali bertemu. “Div, ada yang mau aku bicarain” ucapku lembut. “ya udah, bicarain aja Raka. Aku siap dengerin” jawabnya. “aku gak bisa jadiin kamu pacar lagi Div!”. Mendengar ucapanku Diva sontak berdiri dan memandangku lemas.
 
***
2013

Kini, kisah cinta minyak telon itu sudah berakhir bahagia. Sebagai tanda cinta, aku meminangnya dan kami resmi menjadi sepasang hati yang terikat janji dihadapan Tuhan. Diva, adalah sosok wanita sederhana yang dapat membuatku jatuh cinta. Semoga cinta kami akan selalu hangat seperti minyak telon yang sangat ia suka.

TAMAT

Jakarta, 29.5.2013
Ulfa Rahmatania

Ruang Ulfa . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates